Became the Patron of Villains

Bab 102

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 53 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 102

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Alon dan Evan, bersama rombongan Liyan, memulai perjalanan mereka menuju reruntuhan Malacca.

“Marquis… Rasanya udara semakin lembap semakin jauh kita melangkah ke dalam,” gumam Evan, raut wajahnya menyiratkan rasa tak nyaman yang kentara.

“Memang,” sahut Alon seraya mengangguk ketika menangkap seringai kecut di wajah Evan.

‘Aku tahu tempat ini memang lembap, tapi tak kusangka akan seburuk ini. Benar-benar menyesakkan,’ batin Alon, berusaha menutupi rasa risihnya.

Ia meraba dan merapikan pakaiannya, merasakan kain yang terasa basah dan lengket di bawah jemarinya.

‘Kita harus menyelesaikan urusan ini secepatnya dan segera angkat kaki dari sini.’

Setelah berjalan beberapa lama, seseorang berseru mengusulkan, “Mari kita istirahat sejenak.”

Mereka telah mencapai titik paruh perjalanan.

Di sela-sela waktu istirahat itu, Alon berbincang santai dengan Liyan dan mengetahui alasan mengapa gadis itu beserta kelompoknya bertolak menuju reruntuhan Malacca.

“…Malacca adalah reruntuhan magis?”

Reruntuhan magis.

Peninggalan purba yang ditemukan di Ronovelli hadir dalam beragam rupa—reruntuhan harta karun, reruntuhan warisan leluhur, serta reruntuhan pengetahuan, di samping jenis lainnya.

Di antara semuanya, reruntuhan magis dipandang luar biasa berharga oleh para penyihir, sebab tempat-tempat semacam itu kerap menyimpan artefak dari era dewa-dewi yang terlupakan.

Kendati demikian…

‘Bukankah Malacca hanyalah reruntuhan biasa di dalam gim?’

Ia telah menyambangi kawasan ini berkali-kali tanpa terhitung saat memainkan , berburu artefak khusus hutan belantara, persis seperti yang dilakukannya pada segmen Raksas.

Kenangan akan berbagai gim mini di rimba ini masih terpatri jelas di benaknya.

“Belum ada kepastian mutlak, tapi kemungkinannya tetap ada,” jawab Liyan.

“Apakah kalian punya bukti?” selidik Alon lebih jauh.

“Ya, para penjelajah baru-baru ini membandingkan struktur tertentu dari reruntuhan Malacca dengan reruntuhan magis yang pernah ditemukan sebelumnya. Melalui peta buatan para penjelajah, mereka menemukan kemiripan yang luar biasa mencolok,” terang Liyan.

Hal ini merupakan wawasan baru bagi Alon.

“Aku memang tahu menyoal reruntuhan Malacca, tetapi tak pernah terlintas dalam benakku bahwa tempat ini mungkin adalah reruntuhan magis. Sangat menarik.”

“Benar, bukan? Aku pun takkan pernah menyadarinya andai bukan karena Theon. Menilik laporan yang dikirim ke perkemahan, kupikir ini hanya reruntuhan purba biasa. Temuan ini seluruhnya berkat jasa Theon,” tutur Liyan.

Mendengar perkataan itu, Alon melirik ke arah Theon yang tengah beristirahat agak jauh dari mereka.

Pandangan Theon sempat beradu dengannya sesaat, namun pria itu lekas memalingkan wajah, bersikap acuh tak acuh seolah tak peduli.

Alon merasa gelagat itu agak janggal, kendati ia memilih untuk tak ambil pusing.

“Lantas, mungkinkah reruntuhan Malacca menyimpan artefak dari zaman yang terlupakan?” tanya Alon.

Liyan memiringkan kepalanya, tampak menimbang-nimbang.

“Hmm, kurasa kemungkinannya kecil. Sewaktu para penjelajah dan penyihir pertama kali menemukan reruntuhan Malacca, laporan mereka menyatakan tak ada apa pun di sana. Kalaupun ada yang bisa didapat, paling banter hanyalah bahan penelitian akademis.”

Alon mengangguk setuju, namun Liyan lantas melemparkan pertanyaan balik kepadanya.

“Ngomong-ngomong, Marquis, gerangan apa yang membawa Anda ke reruntuhan ini?”

Alon sempat tertegun sejenak sebelum membalas dengan jawaban samar.

“Seorang kenalan menitipkan sebuah permohonan.”

“Permohonan?”

“Benar, mereka memintaku untuk mendatangi reruntuhan Malacca.”

Liyan tampak penasaran, namun ia menangkap keengganan Alon untuk bercerita lebih banyak dan memutuskan untuk tidak mendesak.

Alon menghargai kepekaan gadis itu, lalu lekas mengalihkan topik pembicaraan.

“Omong-omong, apakah tidak apa-apa membeberkan informasi semacam ini begitu saja? Aku sama sekali tak mengetahui hal ini sebelumnya.”

“Oh—” Liyan mengangguk mafhum memahami kekhawatiran Alon.

“Tidak masalah sama sekali. Kendati reruntuhan ini memiliki kemiripan dengan peninggalan magis, peluangnya tergolong sangat kecil. Ditambah lagi, kemungkinan menemukan artefak praktis nihil. Segala temuan akademis pada akhirnya toh akan dipublikasikan secara terbuka, jadi tak ada yang perlu dirahasiakan.”

Usai Liyan menuntaskan penjelasannya, Alon kembali bertanya, “Jadi, tujuan kalian kemari murni hanya untuk memastikan apakah reruntuhan Malacca memang peninggalan magis atau bukan?”

“Tepat sekali. Menara Merah unggul dalam hal ‘penafsiran’, sementara Menara Hijau tersohor dalam hal ‘pendeteksian’. Karena itulah kami berkolaborasi dalam ekspedisi ini.”

Liyan lantas menceritakan bagaimana regu penjelajahan sihir tersebut dibentuk demi misi ini.

“Setelah ekspedisi ini tuntas, kalian akan langsung angkat kaki, bukan?” tanya Alon.

“Kecuali jika ada wilayah tak terjamah di utara yang menanti untuk diperiksa, rencananya memang demikian.”

“…Wilayah tak terjamah di utara.”

Alon bergumam pelan pada dirinya sendiri, mengingat kembali apa yang ia ketahui tentang kawasan utara tersebut.

‘Tempat itu… Di masa depan, tak diragukan lagi akan menjadi salah satu wilayah kekuasaan Empat Fraksi Besar, Hyakki (Ratusan Hantu).’

Hyakki.

Mereka bangkit di fase pertengahan menuju akhir , mendatangkan malapetaka beriringan dengan Lima Dosa Besar yang turun ke dunia pada masa itu.

Tersohor karena meremukkan kerajaan sekutu yang memang sudah di ambang keruntuhan menjadi kehancuran total, para anggota Hyakki—termasuk bos mereka—begitu masyhur akan tingkat kesulitannya yang laksana mimpi buruk.

‘Terutama bos dari Hyakki, sang “Raja Penyimpangan”, sekadar mengingatnya saja sudah membuat darahku mendidih.’

“Wilayah utara yang belum terjamah itu… mungkin sebaiknya kalian urungkan niat untuk menjelajahinya.”

“? Mengapa demikian?”

“Aku mendengar kabar dari seorang kenalan bahwa tempat itu menyimpan bahaya,” sahut Alon.

Empat Fraksi Besar, serupa dengan para dewa luar dalam latar dunia ini, lazimnya berdiam dalam lelap kecuali jika Lima Dosa Besar terbangun dan turun ke dunia fana.

Alon, dalam sepercik itikad baik yang langka, melontarkan nasihatnya.

“Mari kita lanjutkan perjalanan!”

Ia beranjak bangkit berdiri, meninggalkan Liyan yang masih dirundung kebingungan.

‘…Kuharap semuanya akan baik-baik saja,’ batinnya, kendati sekelebat rasa gundah sempat melintas di benaknya saat sosok Deus mendadak terbayang.

Pagi yang pengap dan menindas itu pun terus bergulir…

***

Setelah sekian waktu berlalu, rombongan tersebut akhirnya menjejakkan kaki di pelataran kuil Malacca.

Dengan langit yang berselubung mendung pekat, sukar bagi siapa pun untuk mengira-ngira jalannya waktu.

“Mari langsung masuk ke dalam.”

Menyadari bahwa reruntuhan ini tidak terdaftar sebagai zona berbahaya, para penyihir tak membuang-buang waktu.

Mereka melangkah memasuki bagian dalam bersama tentara bayaran dan pemandu sewaan masing-masing, bersemangat untuk segera mengawali penjelajahan.

“Apakah kita juga akan masuk?” tanya Evan.

“Ya.”

Alon, yang sedari tadi mengamati struktur purba reruntuhan yang menyerupai piramida tersebut, melangkah maju bersisian dengan Evan.

Di bagian dalam, reruntuhan itu memperlihatkan jejak kelembapan yang telah berlangsung teramat lama, dengan lumut hijau yang merambati celah-celah bebatuan.

Saat mereka kian melangkah masuk, Alon mendadak teringat pada untaian kata yang pernah diucapkan oleh Cretenia Siyan:

—…Kau akan paham alasannya begitu tiba di sana.

Sejujurnya, Alon masih belum mampu menyelami niat tersembunyi Siyan yang mengutusnya kemari.

Tak peduli seberapa keras ia memikirkannya, ia bahkan tak sanggup mereka-reka alasan yang masuk akal.

‘Kira-kira apa maksudnya?’

Tenggelam dalam lamunan, kesadaran Alon tersentak kembali ke alam nyata oleh celotehan Evan.

“Oh, di dalam sini udaranya terasa lebih sejuk.”

Pada saat itulah, Alon akhirnya menatap lekat-lekat bagian dalam reruntuhan tersebut.

“…”

Benar-benar, secara harfiah, tak ada apa pun di sana.

Selain bongkahan batu berselimut lumut, satu-satunya fitur yang mencolok hanyalah sebuah lempengan batu raksasa di tengah ruangan, berukuran begitu lapang hingga sanggup menampung seratus orang sekaligus dengan mudah.

Selain itu, yang tersisa hanyalah ruang hampa yang terbentang luas tanpa cela.

‘Apa yang bisa diharapkan seseorang untuk dipelajari dari tempat semacam ini?’ tanya Alon dalam hati.

Berdiri di dalam ruangan yang sedikit lebih dingin itu, kalimat samar penuh teka-teki dari Siyan kembali terngiang di benaknya.

Alon sekali lagi menyapu pandang ke sekeliling reruntuhan yang tandus itu.

Ketika tatapannya perlahan bergulir ke atas…

“?”

Ada sesuatu yang tertangkap oleh matanya.

Apa yang sekilas tampak menyerupai guratan gambar, pada kenyataannya, adalah deretan aksara.

Alon seketika menyadari dalam benaknya bahwa itu adalah “tulisan”, memahaminya secara alami seakan-akan aksara itu telah terpatri di dalam jiwanya.

Ia pernah mengalami hal serupa sebelumnya kala mengamati sebuah prasasti di reruntuhan yang dulunya dihuni oleh Bangsa Naga.

—Telur Naga Suci.

Kendati telah tergerus oleh laju sang waktu, ukiran inskripsi itu masih terpampang jelas dan terbaca.

“…‘Stasis’?” gumamnya lirih, mengeja frasa yang tertera tepat di bawahnya.

Bum.

Dari suatu sudut yang jauh, terdengar dentum berat sesuatu berukuran masif yang terbanting menutup.

Krak!

Disusul suara tajam benda pecah berhamburan.

***

‘Jadi kemungkinan besar tempat ini memang bukan reruntuhan magis, kendati memiliki beberapa kemiripan,’ batin Liyan seraya menatap sekeliling reruntuhan yang sebelumnya sunyi melompong.

Akan tetapi, sebuah suara retakan tajam yang mendadak seketika menyentak perhatiannya.

“!?”

Salah seorang penyihir Menara Hijau yang baru saja melangkah masuk bersamanya beberapa saat lalu, kini telah tergeletak rubuh di lantai.

Kepalanya telah hancur meledak berkeping-keping.

Kriuk, kriuk. Nguuung!

Tak jauh dari sana, serangga-serangga berukuran mengerikan tengah berpesta merobek-robek jasad sang penyihir.

“Ugh!”

“A-apa… monster macam apa itu!?”

“Gila, ini benar-benar gila—”

Seorang penyihir, tak sanggup membendung rasa mual yang menggelegak, muntah seketika, sementara yang lainnya menjerit histeris dalam cengkeraman teror.

Namun tak lama berselang, mereka semua bergegas mempersiapkan mantra sihir, mengarahkan fokus ke arah kawanan serangga mengerikan yang kini kian banyak merayap keluar dari seantero penjuru reruntuhan yang luas tersebut.

‘Mengapa mutan hutan rimba bisa berada di tempat ini?!’

Liyan tak habis pikir dengan situasi di depan matanya, namun tak ada waktu barang sedetik pun untuk termenung.

Ia pun lekas memusatkan diri demi merapal sihirnya.

Namun, sebuah kenyataan mengerikan seketika menyergap kesadarannya.

‘Kenapa… sihirku tidak…!?’

Kenyataan itu begitu sederhana namun menebarkan kengerian mutlak: sihir sama sekali tak dapat dimanifestasikan.

Melihat serangga-serangga buas kian merangsek mengerubungi mereka, Liyan dengan kalap mencoba lagi merapal sihir, raut wajahnya diliputi keputusasaan yang kian mendalam, namun segala upayanya berujung sia-sia.

‘Mana milikku… tercerai-berai…!’

Tepat pada detik ia melepaskan mana untuk membentuk mantra, aliran energi itu buyar berhamburan tak terkendali ke udara bebas.

Menyadari hal tersebut, sekujur tubuhnya dicekam ketakutan yang mencekik.

“Hah—”

Sebuah helaan napas panjang bergema di sekeliling ruangan, membetot atensi Liyan beserta para penyihir lainnya.

“Nyaris saja,” ucap Theon yang berdiri tegak pongah di tengah kepungan kawanan serangga.

“Theon…?” panggil Liyan dengan suara bergetar, tak percaya pada apa yang disaksikannya.

Theon, yang berdiri tepat di atas jasad penyihir Menara Hijau, menyunggingkan senyuman nyata—sebuah seringai yang sarat akan cemoohan keji.

“Kalian tampak seperti orang bodoh yang tak mengerti apa-apa,” tuturnya, nada suaranya meneteskan penghinaan pekat.

Wajah Liyan mengeras kaku menyaksikan seringai laknat tersebut.

“…Apakah kau sadar apa yang sedang kau perbuat ini?” tuntut Liyan berang.

“Oh, kita mau main drama begini? Mau menceramahiku? Maaf mengecewakanmu, tapi simpan saja khotbah sucimu itu. Telingaku sudah kebas mendengar ceramah seumur hidupku. Dan jangan cemas, aku tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Tampaknya justru kalianlah yang buta dan meraba-raba dalam kegelapan di sini,” sahut Theon enteng tanpa beban.

“Apa maksudmu?” sergah Liyan, rasa bingungnya kian menjadi-jadi.

Theon terkekeh sinis.

“Andai kau tahu apa yang hendak kulakukan, wajahmu takkan mampu terlihat setenang itu.”

Bersamaan dengan kata-katanya, ia menarik sebatang tongkat pusaka hitam kelam dari balik jubahnya dan mengayunkannya perlahan.

Pada detik itu pula, salah satu serangga—yang wujudnya menyerupai nyamuk raksasa mutan—menghunjamkan moncong probosisnya yang tajam menusuk dada jasad sang penyihir.

Dalam pemandangan yang teramat mengerikan, makhluk itu merenggut paksa jantung sang penyihir hingga darah segar menyembur deras ke mana-mana.

Theon mengambil jantung berlumur darah itu dari rahang sang serangga, lalu melemparkannya ke tengah-tengah arena.

Jantung tersebut berdenyut liar penuh gejolak, menumpahkan darah yang merembes luas membasahi lantai ruang raksasa tersebut.

Liyan mencoba sekali lagi untuk mengerahkan sihirnya, tetapi Theon lekas menyela ucapannya.

“Oh, jangan buang-buang tenaga. Sekarang setelah ‘ujian’ telah dimulai, sihir apa pun takkan pernah sudi bekerja di dalam reruntuhan ini.”

“Ujian?” tanya Liyan, tersentak ngeri.

“Tepat sekali. Sebuah ujian untuk menentukan siapa yang layak mengklaim relik magis di tempat terkutuk ini,” terang Theon seraya mengedikkan bahu dengan santai.

“Perlu kusebutkan,” tambahnya lagi, “aku sejatinya tak menaruh dendam pribadi pada kalian semua. Satu-satunya alasan aku menggiring kalian kemari adalah karena aku membutuhkan tumbal jantung dari setidaknya sepuluh orang penyihir.”

Dengan seringai licik penuh tipu daya, ia melanjutkan bicaranya, “Rupanya, hanya jantung penyihir yang memenuhi syarat—sebuah petunjuk yang kudengar dari… seseorang. Bagaimanapun, aku tak punya pilihan lain.”

Gelagat Theon berubah menjadi ceria yang ganjil dan mengerikan, seakan seluruh sikap diamnya selama perjalanan hanyalah topeng kepalsuan semata.

“Meskipun begitu, kuakui aku sempat waswas sejenak. Membawa Marquis dari Palatio bukanlah masalah besar karena dia seorang penyihir, tetapi monster yang memegang pedang Caliban itu? Nah, makhluk itu benar-benar membuat nyaliku menciut.”

“Aku bahkan sempat memutar otak mencari cara bagaimana bertahan sampai sang Marquis pergi. Tetapi melihat aku bisa memulai ujian ini tepat pada hari pertama? Wah, aku benar-benar luar biasa bersyukur.”

Theon melemparkan tatapan mengejek ke arah Alon sebelum kembali menatap yang lainnya.

“Kalau begitu, aku undur diri dulu. Jangan risau—jantung kalian akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.”

Dengan satu kibasan tongkat hitamnya, kawanan serangga mutan itu membentangkan sayap mereka dan melesat terbang ke udara.

‘Jadi… inikah akhir dari segalanya?’

Liyan menatap dalam keputusasaan yang pekat tatkala mana miliknya, tak peduli seberapa deras ia curahkan, buyar berantakan tanpa guna ke udara bebas.

Wajahnya terdistorsi oleh kepasrahan yang membuncah.

Kertak—

Sebuah suara tajam membelah keheningan di tengah kepanikan, menarik pandangan matanya.

Di sana, tepat di depan uluran tangan Alon yang terbentang, cahaya sihir berkilau benderang penuh keagungan.

Para penyihir, yang beberapa jenak lalu tenggelam dalam jurang keputusasaan, tertegun menatap pendar cahaya itu seakan terhipnotis.

“!?”

Seringai congkak di bibir Theon seketika luntur, berganti menjadi kebingungan, sebelum akhirnya berubah menjadi keterkejutan yang teramat mutlak.

“Stasis.”

Alon, yang telah memecahkan satu-satunya kunci untuk melancarkan sihir di ruangan ini, merapal mantra tersebut dengan ketenangan yang luar biasa.

— End of Chapter 102 — — Akhir Chapter 102 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!