Became the Patron of Villains

Bab 66

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 53 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 66

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Sudah tiga hari berlalu sejak Alon pergi sendiri untuk memastikan kabar mengenai insiden di Al-Kamae.

Ketika ia kembali memulai perjalanan bersama rombongan pedagang yang rutin menuju kota gurun, sama seperti sebelumnya, Alon menghela napas panjang di bawah terik panas yang menyengat.

“Count, bisakah Anda menggunakannya sekali saja?”

“Jika aku salah menggunakannya, semuanya bisa membeku jadi es padat.”

“Membeku rasanya terdengar jauh lebih baik daripada mati terpanggang jadi mayat gosong…”

“Tetap saja, tidak.”

Mendengarkan keluh kesah Evan yang tidak ingin terpanggang, Alon menatap sang surya yang membara seraya merenungkan peristiwa beberapa hari lalu.

‘Apa yang sebenarnya terjadi pada Al-Kamae?’

Tentu saja, karena belum melihat jasadnya secara langsung, ia tidak bisa memastikan nasib yang menimpa Al-Kamae. Namun, alasan mengapa ia menduga ada sesuatu yang tidak beres adalah artefak yang dibawanya saat ini.

Ia menatap lencana di genggaman tangannya.

Lencana itu, alih-alih berkilau keemasan, justru berwarna abu-abu kusam.

Dalam istilah permainan, artefak ini adalah jarahan yang bisa diperoleh setelah menuntaskan Al-Kamae pada tahap pertengahan gim (mid-game) Psychedelia.

‘Lambang Kemurnian (Symbol of the Innocent)… Aku tidak menyangka bisa mendapatkannya seawal ini.’

Kendati lencana tersebut saat ini belum memiliki fungsi apa pun, benda itu tersohor memiliki atribut status yang luar biasa saat diidentifikasi, terutama untuk ukuran barang yang lazimnya baru didapat di pertengahan babak cerita.

Sama persis seperti cincin yang Alon peroleh dari Heinkel namun belum sempat ia gunakan.

‘Dalam perjalanan ke Laxas untuk membuka segel cincin itu, aku harus mampir ke Kota Labirin untuk meminta taksiran dan identifikasi.’

Bagaimanapun juga, Lambang Kemurnian ini adalah benda yang sangat disayangi Al-Kamae, bahkan telah dirapalkan sihir pengikat agar tak seorang pun sanggup mencurinya.

Sederhananya, andai Al-Kamae belum tewas, mustahil ada orang lain yang sanggup merebut lencana ini.

Namun, karena lencana tersebut kini berada di tangan Alon tanpa ada tanda-tanda interferensi sihir sedikit pun, ia sangat yakin bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa Al-Kamae.

Oleh karena itu, malam itu juga, Alon telah menjarah habis kediaman megah Al-Kamae tanpa sisa.

….

Ia melirik tumpukan harta karun yang menggunung di bagian belakang kereta kuda, lalu mengulum senyum tipis di balik wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi.

Dan bukan hanya itu saja.

Kantung pinggangnya kini telah dipenuhi ramuan sihir tingkat tertinggi, menggantikan persediaan yang sempat terkuras habis saat pertarungan sengit melawan Kailas tempo hari.

Semuanya merupakan hasil jarahan dari kediaman Al-Kamae.

‘Hartanya memang tidak sebanyak yang kuharapkan, tapi—’

Karena dunia ini bukanlah tempat di mana keping uang bisa memancar begitu saja dari dalam tanah, Alon sudah lebih dari puas dengan timbunan harta yang kini termuat di kereta kudanya.

Baginya, uang selalu menjadi jawaban yang paling tepat.

Sudah berapa lama mereka menempuh perjalanan seperti ini?

“Semuanya, berhenti!”

Teng-teng!

Mendengar teriakan lantang dari arah depan, iring-iringan karavan yang tengah melintasi gurun mendadak berhenti serentak, diiringi gema dentang lonceng.

Itu adalah aba-aba dari kelompok pedagang untuk mendirikan perkemahan. Menyadari matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Alon melangkah turun dari kereta kuda.

Tak lama berselang setelah mereka mulai mempersiapkan perkemahan…

“Ah, Count, apakah perjalanan Anda hari ini terasa nyaman?”

Berbeda dengan pimpinan rombongan pedagang Rambut Emas sebelumnya, kali ini seorang pimpinan pedagang bertubuh agak ramping menghampiri Alon seraya membungkuk hormat.

“Berkat Anda sekalian.”

“Oh tidak, sama sekali bukan apa-apa~”

Pimpinan pedagang itu, yang terus membungkuk berulang kali meski Alon tidak berbuat banyak, tersenyum dengan cengiran khas kaum saudagar kapitalis seraya menyodorkan sesuatu ke hadapan Alon.

“…Apa ini?”

“Ah, ini adalah komoditas yang diperdagangkan kelompok kami. Yang di sebelah sini adalah anggur dari perkebunan Komur, dan yang ini berisi bahan makanan pilihan yang kami peroleh dari tanah Kalmian.”

“Begitu rupanya.”

“Kami membawanya dengan harapan Anda berkenan mencicipinya.”

Alon mengangguk pelan menanggapi kesopanan yang terlampau berlebihan itu, di mana sang saudagar membungkuk begitu dalam hingga wajahnya nyaris menyentuh tanah.

“Akan kunikmati dengan senang hati.”

“Baik, Tuan! Selamat beristirahat dengan tenang.”

Melihat pimpinan pedagang itu membungkuk beberapa kali lagi sebelum akhirnya undur diri, Alon mengedikkan bahu ringan.

Dahulu, ia bahkan tidak diperlakukan selayaknya bangsawan sejati. Namun belakangan ini, ke mana pun ia melangkah, sambutan mewah nan luar biasa selalu menyertainya.

Hal ini sebagian besar berkat reputasinya yang kian melambung serta desas-desus bahwa ia adalah pemimpin faksi paling berpengaruh di seantero Kerajaan Asteria.

Akibatnya, siapa pun yang sedikit banyak memahami percaturan politik kerajaan akan berusaha sekuat tenaga menorehkan kesan baik di hadapan Alon, mendadak berubah menjadi penjilat ulung begitu bersua dengannya.

‘Yah, itu pun hanya berlaku bagi orang-orang yang beraktivitas di sekitar Kerajaan Asteria.’

Sembari mengangkat bahu sembari memandangi hadiah yang dipersembahkan sang saudagar demi mengamankan jalur perniagaan baru…

“Oh, benarkah begitu?”

“Tentu saja.”

Terdengar sayup-sayup suara Evan dari suatu sudut, tengah asyik berbincang dengan seorang wanita seusai merampungkan tenda perkemahan.

“Wah, hebat sekali.”

“Haha, yah, hal semacam itu bukanlah perkara sulit bagiku.”

Ketika Alon melirik ke arah wanita yang menanggapi dengan penuh antusias setiap bualan yang dilontarkan Evan, ia lekas menyadari jati diri sosok tersebut.

‘Putri sang saudagar, rupanya.’

Raut wajah Alon berubah ganjil saat menyaksikan interaksi sepasang insan itu.

‘Sepertinya belakangan ini makin banyak wanita yang mengerubungi Evan.’

Alon tahu betul musabab mengapa begitu banyak gadis tiba-tiba berkerumun mendekati Evan.

Semua itu tak lepas dari ketenaran namanya sendiri.

Dikenal luas sebagai satu-satunya kesatria milik Count Palatio yang tersohor, sebagian besar wanita menaruh minat tinggi pada Evan dan mendekatinya dengan tatapan penuh kekaguman.

Kendati Alon merasakan secuil rasa geli atas situasi di mana lembu yang punya susu, sapi yang punya nama, ia lekas mengabaikannya begitu saja.

‘Yah, mengingat segala jerih payah yang telah ia lalui, kurasa tak ada salahnya sesekali ia menikmatinya.’

Menyaksikan Evan bertingkah heboh dan berkoar-koar penuh lagak, Alon kembali membatin dalam hati.

‘Entah apakah Evan menyadarinya atau tidak. Putri saudagar itu menatapnya dengan pandangan setajam burung elang pemburu.’

Karena tak ingin merusak suasana, Alon pun duduk di depan api unggun demi menghalau hawa dingin senja yang kian menusuk tulang.

“Lezat.”

Ubi manis yang dipanggang Evan matang dengan sempurna.

***

Sepekan lewat sehari kemudian, tepat pada fajar yang masih remang, siluet koloni permukiman akhirnya kembali terpampang di depan mata Alon setelah hampir genap setahun berlalu.

‘Hmm~’

Meskipun wujud koloni tersebut tak banyak berubah dari ingatan lamanya, gaya arsitekturnya yang khas tetap terasa unik dan segar di pandangan Alon.

Seusai bertukar salam perpisahan singkat dengan pimpinan pedagang, Alon membalikkan badan, namun seketika itu pula…

“Tuan!”

Sensasi pelukan erat yang sudah sangat familier menerpa tubuhnya saat Seolrang melompat menerjang dan mendekapnya tanpa ragu.

“Halo!”

Seolrang, yang menempel lekat padanya bagai lem perekat, menyapa dengan riang gembira.

“Sudah lama tidak berjumpa.”

“Benar sekali!”

Saat Alon memperhatikan ekor Seolrang yang bergoyang-goyang penuh kegirangan…

“Lihat ke sana. Bukankah itu si Kilatan Emas?”

“Iya, benar dia.”

“Siapa orang yang bersamanya itu?”

“Sepertinya itu Count Palatio.”

“Mustahil. Si Anjing Gila bisa bersikap semanis dan seramah itu pada seseorang?”

Telinga Alon menangkap sayup-sayup kasak-kusuk bisikan yang berdengung dari sekeliling mereka.

“Seolrang.”

“Iya!”

“Lepaskan pelukanmu dulu.”

“Siap!”

Mendengar perkataan Alon, Seolrang seketika melepas rangkulannya di pinggang pria itu lalu menjejakkan kedua kakinya kembali ke tanah.

“Apakah aku hebat?”

“Kau hebat.”

Menyaksikan Seolrang mengibaskan ekornya dengan bahagia usai menerima pujian darinya, Alon tiba-tiba menyadari betapa sunyinya suasana di sekitar mereka saat itu.

Ketika melayangkan pandangan ke sekeliling, ia mendapati bahwa semua pasang mata di gerbang selatan koloni tengah membelalak menatapnya dengan ekspresi tercengang.

Bahkan sang pimpinan pedagang beserta putrinya, yang baru saja berpamitan dengannya, berdiri mematung di sana dengan mulut menganga lebar.

‘…Mengapa mereka semua begitu terkejut?’

Merasa agak janggal dengan keheningan yang mencekam itu, Alon menyapu pandangan ke sekitarnya dengan kening berkerut bingung.

Semua orang tampak seperti baru saja menyaksikan pemandangan yang mustahil di dunia nyata, wajah mereka membeku dalam rasa tak percaya.

Melihat reaksi ganjil tersebut, Alon sendiri jadi ikut kebingungan.

Bukankah sambutan penuh antusias dari Seolrang ini sama persis seperti yang diterimanya setahun silam?

Namun kini, perubahan sorot mata orang-orang begitu mencolok dan kontras, membuat Alon sempat terpaku gamang.

“Ehem-ehem—”

Berdeham canggung demi mengusir suasana yang tiba-tiba tak nyaman itu, Alon membuka suara dan berucap, “Seolrang, aku ingin langsung pergi ke situs reruntuhan. Apakah memungkinkan?”

“Tentu saja sangat bisa!”

Mendengar jawaban ceria Seolrang, Alon bergegas menaiki kereta kuda. Bahkan saat ia telah masuk ke dalam kereta dan roda mulai bergulir melaju menuju situs reruntuhan, raut keterkejutan tak kunjung sirna dari wajah orang-orang yang menonton di sana.

***

Kini mereka tengah menempuh jalur menuju reruntuhan yang terlupakan, menumpangi kereta kuda yang telah disiapkan khusus oleh Seolrang. Sama seperti kunjungan sebelumnya, perjalanan mereka berada di bawah pengawalan ketat suku Surai Emas, namun Alon dapat mengendus ada perubahan halus yang janggal.

‘Ada sesuatu yang terasa berbeda.’

Alon melirik ke arah Seolrang. Gadis itu sendiri sejatinya tidak banyak berubah dibanding setahun yang lalu. Satu-satunya perbedaan yang kentara hanyalah helaian rambut pirang keemasannya yang kian panjang menjuntai, kini mencapai batas tulang ekornya. Namun selain hal itu, ia tetaplah Seolrang yang sama seperti sedia kala.

Akan tetapi, bertolak belakang dengan Seolrang, atmosfer di antara para prajurit suku Surai Emas yang mengawal kereta kuda terasa amat berbeda dibanding setahun silam.

‘Dahulu mereka tampak jauh lebih ramah…’

Tentu saja, keramahan mereka sejak awal memang selalu tertuju pada Seolrang alih-alih kepada Alon, namun kini tak ada lagi kehangatan maupun tingkah santai bersahabat seperti yang ia ingat dahulu. Sebaliknya, mereka bergerak dalam keheningan pekat, mengawasi keadaan sekeliling dengan tatapan waspada tanpa sepatah kata pun terucap.

Mengingat kembali peristiwa nahas yang menimpa Seolrang setahun yang lalu, Alon mengangguk mafhum.

‘Kupikir pengkhianatan kala itu memukul mereka jauh lebih telak daripada yang kukira.’

Tatkala Alon tengah merenung bahwa ia harus bersikap lebih hangat dan penuh perhatian kepada Seolrang agar gadis itu tak larut dalam bayang-bayang masa lalu, Seolrang tiba-tiba bersuara.

“Ah, Tuan!”

Gadis itu berseru seolah baru saja teringat suatu hal penting, dan Alon pun menanggapi.

“Ada apa?”

“Bolehkah aku meminta satu bantuan padamu!?”

Alon sempat terperangah sejenak oleh permintaan yang mendadak itu, namun segera menganggukkan kepala.

“Tentu saja, asalkan itu hal yang sanggup kulakukan.”

Bagaimanapun juga, berkat bantuan Seolrang lah mereka bisa bepergian menuju situs reruntuhan dengan begitu nyaman dan leluasa, terlebih ia memang berniat memperlakukannya dengan lebih baik. Mendengar persetujuan itu, wajah Seolrang seketika berseri-seri cerah. Ia merogoh sebuah lembaran kertas dari dalam tasnya lalu menyodorkannya ke hadapan Alon.

Kemudian, saat tangannya terulur ke luar jendela kereta kuda, sebatang pena artefak langsung diletakkan ke telapak tangannya seolah telah dipersiapkan sebelumnya.

Menyerahkan pena tersebut kepada Alon, Seolrang berkata riang,

“Ini, tanda tangani.”

“Tanda tangan…?”

“Iya!”

Mengangguk mantap penuh semangat, gadis itu menatapnya dengan binar mata yang sarat akan harapan besar. Anggukannya begitu antusias sampai-sampai rambut panjang keemasannya yang menjuntai hingga ke tulang ekor bergoyang meliuk-liuk di udara.

Melihat tingkahnya, Alon tak kuasa menahan prasangka dalam benaknya,

‘Apakah dia memintaku menjadi penjamin pinjaman dana…?’

Merasakan ketegangan merayap tanpa disadari, Alon menundukkan pandangan ke arah lembaran kertas di depannya. Dokumen tersebut rupanya telah terisi lengkap pada beberapa kolom yang tampak rumit.

Dengan kening berkerut bingung, Alon lantas melirik baris judul di bagian teratas dokumen tersebut.

…Formulir Akta Pendaftaran Pernikahan?

“Ayo tanda tangani!”

Alon seketika bungkam, tercekat seribu bahasa.

— End of Chapter 66 — — Akhir Chapter 66 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!