Became the Patron of Villains

Bab 106

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 59 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 106

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Sebelum malam kian larut, Alon kembali ke perkemahan bersama Celaime Mikardo, yang kini tak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan penelitiannya setelah Persembunyian Pertapa terbuka.

“…Apakah Anda bertanya tentang bagaimana cara naik ke peringkat berikutnya?”

“Benar sekali. Kupikir akan ada semacam petunjuk mengenai hal itu di sana.”

Sembari berbincang dalam perjalanan kembali ke perkemahan, Alon merenungkan jawaban Celaime.

“Kemungkinan besar memang tidak ada apa pun di luar peringkat ke-8.”

Berdasarkan pemahaman Alon mengenai sistem Psychedelia, seorang penyihir yang sanggup menguasai sihir Asal (Origin) akan mencapai puncak tertingginya di peringkat ke-8.

“Begitu rupanya.”

“Tepat sekali. Kendati saat sampai di sana ternyata tak semegah yang kubayangkan, perjalananku sama sekali tak sia-sia. Aku memetik banyak pelajaran berharga dari mengkaji lingkaran sihir di gerbang perbatasan.”

Alon mengangguk pelan mendengar tawa renyah Celaime. Kendati ia menganggapnya tak perlu, ia enggan memadamkan gairah Celaime dalam mendalami sihir demi melangkah lebih jauh.

‘Namun, hanya karena sistem tak mencatat apa pun di luar peringkat ke-8, bukan berarti peringkat ke-9 mustahil ada.’

Pikiran itu sempat terlintas di benaknya.

‘Omong-omong, apa yang sebenarnya terjadi pada Celaime Mikardo dalam kisah aslinya?’

Celaime Mikardo tak pernah sekalipun muncul dalam karya asli yang diingat Alon. Bahkan saat berbincang dengan Penia yang histeris dalam cerita aslinya, topik seputar sang Tuan Menara tak pernah disinggung sedikit pun.

‘Apakah aku terlupa? Sudah sekian lama berlalu, ingatanku mungkin saja mulai mengabur kecuali jika kubuka kembali buku catatanku.’

Alon teringat pada buku catatan yang selalu disimpannya, tempat ia mencorat-coret pengetahuan berguna tentang dunia ini di waktu senggang agar rincian-rincian krusial tak luput dari ingatan.

‘Meski begitu, aku yakin Celaime memang tidak muncul dalam cerita asli Psychedelia.’

Keyakinannya menguat seiring ia memutar kembali kepingan-kepingan ingatan yang relevan di benaknya.

“Ngomong-ngomong, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Ada apa?”

Saat Celaime dengan hati-hati bertanya bagaimana Alon bisa menemukan kunci sejati untuk gerbang kedua, Alon menolaknya mentah-mentah.

“Mohon maaf, aku tak bisa membagikan hal itu.”

Di kalangan para penyihir, lancang hukumnya menanyakan rahasia sihir yang dikembangkan orang lain di luar hierarki sihir yang mapan. Alon memanfaatkan etiket ini untuk menolak dengan lugas dan penuh percaya diri.

‘Lagipula bukan masalah besar. Sihirku sebagian besar hanyalah tipuan mencolok tanpa isi yang berarti.’

Saat Alon merenungkan mengapa kebohongan putihnya itu berhasil, Celaime terus tersenyum.

“Haha, maafkan kelancanganku. Aku hanya terlampau penasaran.”

“Tak apa.”

“Yah, barangkali jika hubungan kita sudah semakin akrab, suatu hari nanti Anda sudi membagikan dasar-dasarnya kepadaku.”

“…?”

Celaime tergelak puas, sementara Alon sempat tertegun heran mendengar kata semakin akrab.

“Kalau begitu, aku pamit undur diri dulu.”

“Kau mau pergi?”

“Benar, banyak urusan yang harus kuselesaikan. Membelah diri menjadi dua pun rasanya tak akan cukup.”

Celaime lekas berpamitan begitu mereka tiba di perkemahan, membuat Alon menghela napas lega. Berada di dekat Celaime entah mengapa selalu memunculkan hawa yang membuat canggung dan tak nyaman.

“Sampai jumpa lagi di lain waktu.”

“Tentu.”

Alon menyahut santai perpisahan sopan Celaime, lalu mengamati sosoknya yang lambat laun menghilang di kejauhan.

“Fiuh.”

Helaan napas berat lolos dari bibirnya.

“Tugas kedua beres.”

Melangkah menuju penginapan, Alon menimbang-nimbang langkah berikutnya.

“Kini, hanya tersisa tugas pemungkas.”

Sebagai persiapan menghadapi sang Sosok yang Terlupakan, ia merenungi alasan utama kedatangannya ke belantara rimba ini. Lebih dari sekadar artefak atau benda pusaka, kehadiran suatu eksistensilah yang paling mutlak dibutuhkan bagi rencananya.

“Semuanya telah siap.”

Dengan benak yang dipenuhi kepastian itu, ia memainkan cincin pemberian Heinkel di jemarinya seraya melangkah masuk ke penginapan.

“Anda telah kembali, Tuan.”

“Deus?”

“Benar, hamba telah kembali.”

Tepat saat Alon menjejakkan kaki ke dalam, Deus menyambutnya dengan bungkukan khidmat. Namun, ada satu sosok lain di sana yang menatap Alon dengan pandangan sarat kejengkelan bercampur cibiran.

“Hmm, jadi kau yang bernama Marquis itu?”

Pria berpostur tinggi menjulang dan berwajah garang itu tampak amat mencolok. Alon langsung mengenalinya seketika. Reinhardt—pendekar pedang terhebat Caliban yang ditakdirkan—akhirnya menampakkan diri.

‘Besar sekali. Aku tahu dia tinggi, tapi sosoknya jelas melampaui dua meter.’

Tanpa sadar, Alon mendongak demi menatap wajah Reinhardt. Kendati perawakan Alon sendiri tergolong jangkung, hawa keberadaan Reinhardt yang raksasa terasa begitu menekan.

Parasnya yang kasar dan mengintimidasi bertolak belakang tajam dengan nama Reinhardt yang berbau bangsawan, kian memperkeruh ketegangan di udara.

Menambah kekacauan tampilannya, pakaian Reinhardt telah koyak-moyak menyerupai kain lap setelah sekian lama terlunta-lunta di rimba liar sebelum ditemukan oleh Deus. Dalam keadaannya saat ini, Reinhardt tak ubahnya seorang gembong bandit belaka—tiada lebih, tiada kurang.

‘Dalam Psychedelia, kendati guratan wajahnya kasar, penampilannya tetap bersih dan berwibawa, mencerminkan citra seorang kesatria bermartabat.’

Melihat Alon terpaku menatap jurang perbedaan antara Reinhardt yang dikenalnya dengan sosok compang-camping di hadapannya, Reinhardt mengernyit masam lalu mendengus.

“Apa yang kau lihat-lihat? Karena aku sudah memperkenalkan diri, seharusnya kau—”

Namun sebelum kalimatnya tuntas, sebuah tamparan keras mendarat telak, memaksa kepalanya tersentak maju ke depan.

“Jaga sopan santunmu,” sela Deus dingin.

“Keparat kau!” geram Reinhardt, matanya mendelik liar menatap Deus penuh amarah setelah dipukul begitu rupa.

Namun Deus tetap bergeming tanpa riak, lalu mengulang datar, “Jaga sopan santunmu.”

“Bukan aku yang kurang ajar! Kau buta, hah? Dialah yang duluan—”

“Bukankah kau yang pertama kali bicara tanpa tata krama?”

“Aku berhak bicara sesukaku!”

“Tidak, kau tidak berhak.”

“Tentu saja berhak!”

“Kau hanya boleh bersikap lancang jika sanggup mengalahkanku.”

“Khhk—!”

Ucapan Deus menusuk tepat di ulu hatinya. Menyinggung perjanjian yang rupanya telah terjalin di antara mereka berdua—hal yang sama sekali tak diketahui Alon—Reinhardt hanya sanggup meraung tertahan menelan rasa frustrasi yang membuncah.

“Baiklah! Aku minta maaf atas kelancanganku, Marquis Palatio,” dengus Reinhardt tanpa secuil pun ketulusan, suaranya sarat kegeraman.

“Bukan masalah,” sahut Alon acuh tak acuh.

Reinhardt, yang semakin mendongkol melihat tanggapan dingin itu, menggerutu seraya menghempaskan diri ke kursi, meninggalkan sejumput rasa janggal di benak Alon.

‘Padahal dia digambarkan sebagai tokoh liar tak kenal takut yang pantang menundukkan kepala pada siapa pun… melihatnya tertunduk patuh seperti ini rasanya aneh sekali.’

Alon lekas mengibaskan ingatan tentang sumpah yang sempat disinggung Deus tadi, lalu mengalihkan pembicaraan.

“Mari kita simpan perbincangan ini untuk nanti. Hari ini, istirahatlah terlebih dahulu.”

Malam itu, di tengah hawa lembap pekat yang terus membekap, Alon dapat terlelap dengan lelap, seolah tubuhnya kian terbiasa dengan ketidaknyamanan rimba tropis.

***

Keesokan harinya, gerimis tipis menyapa tatapan Alon saat ia melongok ke luar jendela penginapan. Tak lama berselang, Deus membeberkan sekelumit latar belakang perihal Reinhardt.

“…Dia datang ke hutan rimba ini untuk berlatih?”

“Benar. Dia mengaku sempat menghabiskan waktu di wilayah Selvanus dan zona utara.”

“Zona utara?”

“Tepat sekali.”

Hal itu sungguh di luar kelaziman. Wilayah Selvanus bukanlah tempat yang waras untuk dijadikan arena bertapa, mengingat tempat itu sarang monster mutasi yang mengerikan. Bagi seorang Master Pedang anyar berlumur bakat ajaib seperti Fillian sekalipun, bertahan hidup di sana akan menjadi mimpi buruk yang luar biasa berat.

‘Berlatih di tempat laknat semacam itu… hal itu memang masuk akal karena pelakunya adalah Reinhardt, tapi menjelajah zona utara rasanya sudah melampaui batas kewajaran.’

Zona utara, yang masyhur dengan julukan Wilayah Ratusan Hantu, adalah tanah terkutuk yang bahkan sanggup membuat Deus kewalahan. Monster mutasi di sana memang hanya sedikit lebih kuat dibanding Selvanus, namun teror sejatinya bersumber dari hal lain—para bawahan Ratusan Hantu.

“Namun dari apa yang kudengar, sepertinya ia tak bertahan lama di zona utara.”

“Benarkah?”

“Benar. Tampaknya sebagian besar waktunya dihabiskan di wilayah Selvanus.”

Sembari mengangguk mendengar penjelasan yang runtut itu, Alon mau tak mau berdecak kagum membayangkan kehebatan Reinhardt. Kendati demikian, sorot matanya kembali terarah pada Deus.

‘Dan Deus berhasil menundukkan monster sekelas Reinhardt…’

“Apakah ada yang salah, Marquis?” tanya Deus, menyadari tatapan lekat Alon padanya.

Menimbang kata-kata yang hendak diucapkannya, Alon akhirnya berujar tenang.

“Senang melihat pencapaianmu.”

Ungkapan itu membawa sepercik rasa bangga layaknya seorang ayah yang menyaksikan putranya menorehkan kejayaan. Namun jika diutarakan secara gamblang tentu akan terkesan menggelikan, sehingga Alon memilih tutur katanya dengan hati-hati.

“…Benarkah demikian?”

“Ya, kau telah melangkah dengan sangat baik.”

“Hamba mengerti.”

Deus, yang tampaknya merasa tersanjung dan bangga oleh pujian Alon, memperlihatkan sekilas seringai puas yang langka. Setelah beberapa saat bercengkerama, mereka menuntaskan sarapan sederhana bersama Evan dan Reinhardt yang turut turun ke lantai dasar. Lantas, Alon melontarkan pertanyaan krusial.

“Deus, apakah kau akan langsung kembali sekarang?”

“Benar. …Apakah Anda tidak akan ikut kembali bersama hamba, Tuan?”

“Masih ada tempat lain yang wajib kusinggahi.”

“Kalau begitu, izinkan hamba mengawal Anda.”

“…Bukankah tujuanmu kemari sudah tuntas? Bukankah sebaiknya kau segera pulang?”

“Menunda kepulangan beberapa hari tidak akan menjadi masalah.”

“Sejujurnya, aku memang berniat memintamu ikut jika kau tak keberatan. Terima kasih atas kesediaanmu.”

“Sama sekali bukan masalah, Tuan.”

Ketegasan Deus memancing Reinhardt untuk menyela gusar.

“Lalu, apa aku disuruh menunggu di sini seperti orang bodoh?”

“Kau ikut bersama kami.”

“Atas dasar apa aku harus menurutimu?!”

Reinhardt menyalak tajam, nada suaranya sarat pembangkangan.

“Supaya kau tidak kabur lagi.”

“Apa?! Aku kabur? Omong kosong macam apa itu!”

“Kau pikir aku tidak tahu alasanmu lari terbirit-birit ke belantara ini hanya demi menghindari memanggilku ‘kakak’?”

Reinhardt langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat mendengar tudingan telak Deus. Alasan konyolnya melarikan diri ke dalam rimba raya—rahasia memalukan yang bahkan Alon sendiri tak berminat mengetahuinya—kini terbongkar tanpa sisa.

Menyaksikan tontonan langka nan menghibur itu, Alon berdeham pelan seraya tersenyum tipis. Evan yang duduk di sampingnya ikut mencondongkan badan lalu berbisik pelan.

“Jadi, ke mana tujuan kita selanjutnya?”

“Ke suku Ular Petir.”

“Suku Ular Petir? …Tunggu, maksudmu suku liar di timur itu?”

“Benar.”

Mendengar pembenaran Alon, kening Reinhardt mengerut dalam-dalam.

“Apa?! Kau mau ke sana? Marquis Palatio, apa kau sadar sarang macam apa yang hendak kau masuki?”

“Tentu saja aku tahu.”

Wilayah kekuasaan suku Ular Petir terbentang di zona timur, satu dari tiga kawasan yang telah dipetakan oleh pos rimba. Daerah tersebut menjadi kawasan yang paling terisolasi dan perawan lantaran adat suku liar itu yang pantang mentoleransi kehadiran orang asing.

“…Kau tahu mereka ada di sana dan masih nekat mau pergi?”

“Tepat sekali.”

“Hah—”

Reinhardt mendengus tak habis pikir, dan kedongkolannya itu langsung diganjar tamparan keras berikutnya di tengkuk.

“Aduh! Keparat lu!”

“Jaga sopan santunmu.”

“Kau mau cari mati, hah?!”

“Jika kau ingin membuktikan siapa di antara kita yang mati duluan, cobalah maju.”

Reinhardt mengamuk sejadi-jadinya setelah kembali dihantam oleh Deus, namun Alon tetap bersikap tenang menikmati perselisihan di depan matanya.

‘Jika dia tahu perihal suku Ular Petir, wajar saja reaksinya sekeras itu.’

Dalam ranah permainan dan kisahnya, suku Ular Petir adalah musuh yang luar biasa merepotkan. Tiap petarung sukunya setara dengan seorang kesatria tangguh, dan efisiensi tempur mereka berlipat ganda kala bertarung di balik lebatnya dedaunan rimba.

Keadaan diperparah oleh kemahiran mereka dalam merapal kutukan. Sejak detik pertama seseorang dinyatakan sebagai musuh suku Ular Petir, lebih dari sepuluh jenis kutukan pelemah akan langsung merongrong tubuh penyusup, tak mau tanggal hingga orang tersebut angkat kaki dari zona timur.

Kendati demikian, Alon sama sekali tak gentar—ia membawa Reinhardt dan Deus di sisinya.

Namun, tetap ada satu bahaya yang mewajibkannya waspada: suku Ular Petir menyembah sesosok entitas mutlak, sesembahan yang dipuja bak dewa.

…Dan entitas itulah yang menjadi buruan utama Alon.

Memantapkan niatnya, Alon bangkit berdiri.

“Urusan kita di sini sudah selesai, mari berangkat.”

“Menemui suku Ular Petir.”

Seiring reda butiran hujan, rombongan Alon memulai langkah menuju zona timur—tanah terlarang yang bahkan dijauhi oleh para penjelajah dan tentara bayaran paling nekat sekalipun.

Sekitar satu atau dua jam menembus kelebatan zona berbahaya itu, Reinhardt melirik punggung sang Marquis Palatio dari belakang dengan rasa jengkel yang membuncah.

Sejujurnya, Reinhardt tak sudi menyukai sang Marquis. Bukan karena Alon pernah berbuat salah secara langsung padanya, melainkan karena Reinhardt kerap terkena getahnya, menjadi korban sampingan akibat ulah orang itu.

‘Apa hebatnya dia sampai-sampai Deus selalu berpidato panjang lebar memujinya setiap kali rapat?’

Reinhardt tak habis pikir mengapa Deus selalu menyanjung Alon setinggi langit, seolah-olah mengagungkannya sudah mendarah daging.

Memang, ia pernah mendengar kabar dari kalangan kesatria tentang jasa besar Alon saat ekspedisi utara bertahun-tahun silam, namun bukankah bualan lama itu sudah usang untuk terus diungkit-ungkit?

Sosok Alon yang disaksikannya secara langsung tak tampak istimewa sama sekali, bertolak belakang dengan dongeng kepahlawanannya. Andai bukan karena para kesatria yang tiada henti memuja sang Marquis usai ekspedisi utara, Reinhardt pasti sudah menuduh kabar burung itu sekadar bualan kosong belaka.

Sudah mendidih lantaran diseret ke rimba laknat ini alih-alih pulang ke Caliban, Reinhardt yang tengah sibuk menggerutu di dalam hati mendadak menghunus pedangnya.

Mereka telah tiba.

Dibalut jubah bulu binatang warna putih dan mengenakan topeng dari tengkorak hewan, serombongan orang tak dikenal menyeruak dari balik semak belukar layaknya fatamorgana yang membendung jalan.

Reinhardt mengernyit tajam menyaksikan kemunculan mereka.

“Kita sudah terperangkap dalam jerat kutukan mereka.”

Ia dapat merasakan ketajaman inderanya mulai tumpul, seolah tubuhnya terendam di kedalaman air.

“Peringatan bagi kalian, orang asing. Ini adalah tanah suci Sang Ular Biru. Enyahlah!”

Sosok yang bersuara mengenakan topeng berhias empat tanduk, dan geraman parau dari balik topeng itu memancarkan wibawa kepemimpinan yang tak terbantahkan. Tanpa sadar, Reinhardt bersiul rendah penuh decak kagum.

‘Bukan seorang Master Pedang, tapi mendekati tingkatan itu. Menakjubkan, ada orang tanpa latihan seni bela diri formal yang sanggup mencapai taraf sekuat ini.’

Namun keterpukauan Reinhardt terhadap kehebatan sosok bertopeng itu berlangsung singkat.

“Kami datang untuk bertemu dengan kepala suku kalian.”

“Lancang kau mengabaikan peringatanku!”

Apa yang Reinhardt saksikan berikutnya—atau lebih tepatnya, apa yang dipaksa ia saksikan—adalah sebuah pemandangan yang merenggut napas.

Tepat saat kata-kata Marquis Palatio tuntas, salah seorang anggota suku melesat menerjang ke depan, pedang bilah tunggalnya yang panjang menyayat udara dengan ketepatan yang mematikan.

Krek!

Dalam sekejap mata, segalanya membeku.

Bukan hanya bilah pedang itu saja.

Di sekeliling Marquis Palatio, dunia tampak mengkristal diselimuti embun beku, seolah alam semesta sendiri terkesiap gentar di hadapan eksistensinya. Rintik gerimis menjelma butiran es. Dedaunan di sekitarnya berpendar dalam selubung beku.

Bahkan pedang yang tengah terhunus ganas itu membeku menjadi bongkahan es padat.

Lalu, tangan yang mencengkeram gagang pedang pun turut membeku, terbungkus cangkang es yang berkilauan mengerikan.

Segala sesuatu luluh lantak dalam kebekuan mutlak.

Reinhardt, terpaku limbung oleh pemandangan di luar nalar itu, hanya bisa menatap nanar dengan manik mata yang melebar liar. Namun bukan sekadar bentang alam yang membeku yang meremukkan ketenangannya—melainkan apa yang tampak di belakang punggung Alon.

Sepasang mata menyala berkilat di dalam kehampaan di balik sosok sang Marquis. Sorot mata itu memancarkan aura kegelapan yang begitu musykil, seakan menolak hakikat pengenalan itu sendiri.

Hawa mencekam itu mencabik-cabik alam bawah sadar Reinhardt, menggerogoti kewarasannya dalam sekejap.

Namun, hal yang benar-benar membuat jiwa Reinhardt terguncang hebat bukanlah kengerian itu belaka.

Melainkan pemandangan di hadapannya: sosok Alon yang mantel bulunya berkibar gagah, dengan sepasang mata bercahaya yang melayang penuh teror di balik punggungnya.

Siluet itu terasa teramat akrab di ingatannya.

Jauh di palung bawah sadar Reinhardt, getaran itu memicu ingatan yang membakar—sebuah adegan yang semula tak mampu ia tebak, namun kini terpatri jelas membara di dalam benaknya.

Didorong oleh insting hewani, Reinhardt memeras otaknya mencari muasal rasa akrab yang merindingkan kuduk ini. Dan seketika itu pula, ia mengingatnya.

Satu tahun yang silam.

Tatkala Reinhardt dengan congkak memberanikan diri menembus tanah terlarang yang penuh bisik-bisik legenda—hanya untuk lari terbirit-birit menanggung aib kekalahan mutlak.

Satu tebasan tunggal telah menghancurkan pedangnya tanpa ampun, menorehkan luka kegagalan yang jauh lebih menghancurkan harga dirinya ketimbang apa pun yang pernah ditimpakan Deus padanya.

…Patung itu?

Benar, itu adalah patung raksasa itu.

Di balik singgasana Ratusan Hantu, bertakhta di atas batu karang mahabesar, berdiri sebuah mahakarya patung megah yang dipahat langsung di dinding tebing curam.

Dan kini, rupa patung agung itu dengan sosok Marquis Palatio yang berdiri tegak di depannya… tampak serupa secara mengerikan, seolah-olah dipahat dari jiwa yang sama.

— End of Chapter 106 — — Akhir Chapter 106 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!