Became the Patron of Villains

Bab 21

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 53 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 21

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Alon sebenarnya sudah cukup paham mengapa para bangsawan begitu terang-terangan mengabaikannya.

“Karena semua rumor itu akhirnya telah mereda.”

Hingga saat ini, para bangsawan merasa takut pada Alon karena mereka percaya dialah dalang di balik kejatuhan Avalon, organisasi yang menguasai luasnya dunia hitam di Wilayah Timur bersama Leo.

Namun, para bangsawan tidak lagi menganggap Alon sebagai dalang di balik semua itu. Setelah ia menjadi seorang count, ia tidak pernah melakukan satu pun hal berarti selama beberapa tahun terakhir.

Keluarga Count Palatio, sejak masa kakek Alon, selalu dikenal sebagai keluarga terkejam yang tak pernah gagal menancapkan pengaruh di dunia bawah. Keluarga Palatio secara konsisten mendominasi dunia hitam di Timur, meskipun tingkat kendali mereka berubah seiring berjalannya waktu.

Namun, sejak Alon menjadi count, keluarga Palatio praktis tidak lagi memiliki pengaruh di dunia hitam. Akibatnya, dunia hitam Timur yang sekarang telah terpecah-belah dan dilahap oleh kawanan serigala—mereka yang dulunya hanya memunguti sisa-sisa remah di luar wilayah kekuasaan Count Palatio.

Lebih dari itu, kekuatan keluarga Count Palatio juga telah melemah, sesuatu yang wajar terjadi. Kekuatan yang mereka miliki selama ini sebagian besar bersumber dari gelontoran kekayaan yang dihasilkan oleh dunia hitam. Akan tetapi, semenjak Alon memegang gelar count, ia tidak lagi menggunakan uang untuk mempertahankan kekuasaan. Kehidupan yang ia dambakan bukanlah kejayaan megah di dunia bawah, melainkan sebuah kehidupan yang nyaman dan makmur, seperti yang dinikmati oleh para bangsawan pada umumnya.

Dengan kata lain, ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Namun, keputusannya untuk menarik diri sepenuhnya dari dunia hitam justru memicu berbagai rumor di kalangan para bangsawan.

Beberapa berspekulasi bahwa mungkin Count Palatio saat ini bukanlah seorang dalang sama sekali, melainkan sekadar seseorang yang beruntung menduduki posisi count secara kebetulan.

Privacy Settings

Seiring berjalannya waktu dan Alon terus saja tidak melakukan apa pun, rumor tersebut perlahan-lahan diterima sebagai kebenaran.

Pada akhirnya, reputasi Alon merosot drastis menjadi sekadar “si bodoh yang beruntung, yang kebetulan menjadi count menggantikan sang dalang sesungguhnya.”

Tentu saja, masih ada segelintir bangsawan yang menaruh curiga pada Alon, tetapi bahkan mereka pun mulai sepakat dengan rumor yang kian merebak.

Bagaimanapun juga, tidak masuk akal jika Alon—yang jika benar memiliki kekuatan untuk menghancurkan Avalon dalam sehari—tidak menggunakan kekuatan itu hingga detik ini.

Bagaimanapun, Alon sudah bisa menebak perlakuan seperti ini akan diterimanya, hanya saja ia tidak menyangka orang-orang akan sengaja meluangkan waktu untuk mengejeknya separah ini.

Alon mendongak menatap kedua bangsawan yang memamerkan senyum licik di wajah mereka. Ia tidak mengenali satupun dari mereka.

Namun, berdasarkan lambang yang terukir di kereta kuda mereka, sangat mudah ditebak bahwa yang satu berasal dari keluarga Count Crylde, dan satu lagi dari keluarga Count Edolon.

‘Usia mereka sudah separuh baya, tapi bukankah perilaku ini terlalu ke kanak-kanakan?’

Alon tertawa dalam hati saat mengamati garis-garis penuaan di wajah kedua orang itu.

Ia dengan cepat mengerti mengapa kedua bangsawan ini sudi menempuh perjalanan jauh hanya untuk mencemoohnya.

‘…Ah, begitu ya. Rupanya ini perkumpulan para korban.’

Keluarga Palatio, seburuk apa pun reputasi mereka, dulunya adalah faksi yang sangat berkuasa di dunia hitam. Karena itu, mereka secara alami memberikan keuntungan bagi keluarga-keluarga di sekitarnya, sekaligus memeras mereka melebihi batas wajar.

Keluarga yang paling sering diperlakukan seperti alat budak tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga Count Crylde dan keluarga Count Edolon.

Merangkum situasi saat ini, keluarga-keluarga yang pernah menderita di bawah cengkeraman keluarga Palatio kini melampiaskan dendam kesumat mereka kepada Alon.

Tentu saja, bukan Alon yang memeras mereka, melainkan Leo, putra sulung sang count sebelumnya.

Singkatnya, Alon sama sekali tidak punya alasan nyata untuk menjadi sasaran cemoohan semacam itu.

Namun, bagi kedua bangsawan yang begitu bersemangat mengejeknya ini, yang terpenting bukanlah siapa Alon secara pribadi, melainkan fakta bahwa ia adalah sang Count Palatio.

“Semua kekuatan dunia hitam yang dulu kau miliki, apakah semuanya lenyap begitu saja karena kau tidak mampu mengelolanya dengan benar?”

“Sepertinya kereta kudamu juga tidak pernah kauurus dengan baik. Apakah kau ingin meminjam uang?”

Kedua count itu, bagaikan para *troll* anonim yang biasa berkeliaran di komunitas daring, mengerahkan segala upaya untuk mencerca Alon.

“Hmm.”

Alon sempat berpikir, ‘Ini agak menyebalkan’, namun ia memilih untuk menuruti akal sehatnya ketimbang emosi sesaat.

Jika ia mau melawan sekarang, ia bisa dengan mudah menghancurkan kedua bangsawan di hadapannya—mungkin tidak sampai membantai mereka, tapi setidaknya menghajar mereka hingga babak belur. Kendati demikian, tindakan itu hanya akan memperrumit keadaan. Begitu ia terlibat perkelahian, Alon terpaksa harus meninggalkan rombongan dan berjalan sendiri. Dan hal itu bisa memicu masalah yang tidak perlu, seperti berpapasan dengan kawanan bandit.

Privacy Settings

Jelas sekali, meladeni provokasi mereka adalah persis apa yang mereka inginkan.

‘Tidak ada gunanya meladeni orang-orang bodoh ini,’ Alon memutuskan untuk mengabaikan mereka.

Ia tidak cukup bodoh untuk masuk ke dalam perangkap murahan yang begitu kentara.

Hari itu, Alon melahap dua buah jagung bakar, menjadikan ejekan dari kedua count tersebut sebagai musik latar belakangnya.

‘Lezat.’

Jagung bakar itu terasa semakin nikmat di tengah cuaca yang agak dingin.

‘Alangkah lebih sempurna jika ada sedikit mentega,’ gumam Alon, menatap kosong ke arah langit yang disinari rembulan.

***

Selama beberapa hari berikutnya, koeksistensi yang tidak nyaman itu terus berlanjut.

Setiap petang, Count Crylde and Count Edolon akan muncul untuk melontarkan komentar-komentar pedas mereka, dan setiap kali pula, Alon pura-pura tidak peduli, menepis kata-kata mereka seolah angin lalu.

Pihak yang mengabaikan dan pihak yang setengah mati berusaha agar tidak diabaikan. Secara alami, pihak yang mengabaikan pada akhirnya selalu keluar sebagai pemenang.

Alon telah meresapi salah satu pelajaran hidup yang ia petik dari sebuah komunitas daring tertentu: *‘Jangan beri makan para troll.’*

Setidaknya di tempat ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya dalam permainan itu.

Tentu saja, setelah beberapa hari berlangsung, para bangsawan lain mulai ikut mencemooh Alon. Mereka berbisik-bisik bahwa ia tidak memiliki wibawa sebagai seorang bangsawan atau menertawakannya karena memilih bungkam di bawah rentetan penghinaan dari Crylde dan Edolon.

Namun, terlepas dari semua itu, Count Crylde dan Count Edolon—yang tadinya begitu gigih mengejeknya—sama sekali tidak merasa puas.

“Sialan,” gerutu Count Crylde.

“Ini sungguh tidak masuk akal…”

Count Crylde mengerutkan kening saat mengamati Alon dari kejauhan. Meskipun mereka terus-menerus mengejek, merekalah yang justru diabaikan begitu saja, sesuatu yang tentu saja sangat memancing amarah.

Namun, setelah sejenak memendam kekesalan, mereka saling bertukar bisik pelan.

“Apakah kau sudah memastikannya?”

“Ya, sepertinya ia benar-benar tidak membawa pengawal tambahan.”

Sebenarnya, alasan kedua count itu terang-terangan mengejek Alon bukan sekadar untuk melampiaskan kekesalan. Itu adalah cara mereka untuk menguji tingkat pengamanan Alon.

“…Bahkan saat diperiksa secara sembunyi-sembunyi menggunakan artefak, tidak ada apa-apa. Hanya ada bocah bodoh itu dan seorang ksatria bayaran yang duduk di dekatnya.”

“Jadi rumor itu benar rupanya.”

“Sepertinya begitu. Jika ia memiliki kekuatan, ia tidak mungkin bepergian seorang diri.”

“Kalau begitu, kita bisa melanjutkan rencana kita.”

Alasan kedua count itu menyelidiki Alon adalah karena mereka berencana memperluas wilayah kekuasaan ke dunia hitam.

Mereka sangat sadar bahwa Alon tidak memiliki ketertarikan sedikit pun pada dunia hitam, sehingga wilayah itu kini dikuasai oleh berbagai kawanan pemulung. Meskipun rumor tentang Alon sudah diterima secara luas, kedua count itu—yang telah lama tersiksa oleh keluarga Palatio—ingin memastikan kebenarannya dengan mata kepala mereka sendiri.

Privacy Settings

Mereka harus memastikan bahwa Alon benar-benar sudah tidak memiliki sisa kekuatan apa pun.

Setelah berhari-hari mengawasi dan memastikan bahwa Alon tidak memiliki pengawal pribadi, senyum lebar mengembang di wajah mereka.

“Para dewa berpihak kepada kita.”

“Benar sekali. Siapa sangka kita akan mendapatkan kesempatan emas untuk menjejakkan kaki di dunia hitam?”

Meskipun sebagian besar bangsawan ragu-ragu untuk terjun ke dunia hitam, kedua orang ini berbeda. Dulunya sempat bertindak sebagai pesuruh bagi keluarga Count Palatio, mereka tahu persis betapa astronomisnya kekayaan yang berputar di dalam dunia bawah tersebut.

Mereka sangat paham betapa manisnya rasa kekuasaan dari alam kegelapan itu.

Kini setelah keluarga Palatio tampak benar-benar menjadi cangkang kosong, keduanya berbicara dengan penuh antusias, seolah-olah mereka telah berhasil menaklukkan dunia hitam itu.

Kenyataannya, bukan hal yang mustahil bagi mereka untuk merebut kendali dunia hitam jika mereka menggabungkan kekuatan. Toh, alasan mengapa mereka tidak bisa melakukannya dulu bukanlah karena kekurangan kekuatan, melainkan karena mereka takut pada keluarga Count Palatio.

Oleh karena itu, setelah diskusi panjang lebar, mereka kembali mengalihkan perhatian mereka kepada Alon.

“…Jika kita berhasil mengambil alih ‘sisi gelap’ itu, kita harus memberi si bodoh itu sebuah hadiah kecil, bukan begitu?”

“Ide yang bagus. Ada batas seberapa lama seseorang bisa terus mengabaikan orang lain.”

“Ia mungkin bersikap seperti ini karena tidak tahu betapa kejamnya dunia luar. Kita harus memberinya pelajaran.”

“Count Crylde memang memiliki kepribadian yang luar biasa.”

Kedua count itu, mengenakan senyum licik yang jauh dari kesan bangsawan seolah mereka tidak berbuat salah apa pun, merasa sangat yakin bahwa momen yang telah mereka nanti-nantikan akan segera tiba.

Tepat saat keduanya hendak kembali bergabung ke area perkemahan tempat para bangsawan lain berkumpul usai menyelesaikan percabangan rahasia mereka,

“Monster!”

Insiden itu terjadi begitu mendadak. Di bawah selimut kegelapan malam, para monster bermunculan.

Mereka seolah telah bersembunyi dalam penyergapan, menunggu dalam sunyi, hingga seorang prajurit tak sengaja melihat mereka dan berteriak.

Seketika itu juga, jeritan-jeritan mengerikan bergema dari dalam hutan, seolah merespons aba-aba yang tak terlihat.

Tanpa dikomando, para tentara bayaran dan ksatria langsung menghunus senjata mereka untuk melindungi para bangsawan, bagaikan gerakan yang telah dilatih berulang kali.

Dan kemudian—

“Penyihir, berikan kami cahaya!”

Seorang penyihir, yang sengaja dibawa oleh seorang bangsawan semata-mata untuk pamer dalam acara Grand Church ini, merespons perintah ksatria tersebut dengan melemparkan sebuah bola cahaya ke langit.

Dalam sekejap—

Privacy Settings

Para tentara bayaran dan ksatria, yang sedetik sebelumnya masih bergemuruh gaduh, seketika terdiam seribu bahasa.

Pemandangan yang tersaji saat cahaya sang penyihir menerangi kegelapan hutan adalah sekawanan goblin.

Goblin adalah makhluk yang lumrah ditemukan di dalam hutan. Dengan kekuatan setara anak kecil, mereka bukanlah monster berbahaya bagi siapapun kecuali tentara bayaran pemula.

Meskipun pedang berkarat dan busur usang yang mereka pegang bisa mendatangkan bahaya, mereka nyaris tidak memberikan ancaman berarti bagi tentara bayaran berpengalaman maupun para ksatria.

Goblin hanya akan menjadi masalah ketika jumlah mereka membengkak, namun bahkan dengan puluhan ekor sekalipun, mereka masih bisa dengan mudah dipukul mundur.

Akan tetapi—

“…Ini gila…”

Jika jumlah mereka cukup untuk memenuhi seluruh isi hutan di hadapan mereka saat ini, maka mereka tanpa diragukan lagi merupakan ancaman nyata bagi para ksatria dan tentara bayaran.

Terlebih lagi, hal yang semakin meningkatkan ketegangan para ksatria adalah kenyataan bahwa para goblin di hadapan mereka sama sekali bukan goblin biasa.

“…Makhluk apa sebenarnya itu?”

Suara seorang ksatria, yang menyaring rasa takut sekaligus kebingungan, terlontar saat melihat wujud para goblin tersebut.

Masalahnya bukan sekadar karena mereka adalah goblin—melainkan penampilan fisik mereka yang begitu mengerikan.

Kristal-kristal berwarna ungu tampak tumbuh subur di seluruh tubuh mereka, termasuk di bagian kepala, seolah-olah mereka telah terjangkit oleh suatu wabah mengerikan.

Lebih parahnya lagi—

“Tunggu, bukankah itu Mark?”

Di tengah gerombolan goblin tersebut, tubuh seorang tentara bayaran berpengalaman—yang tadi ditugaskan melakukan pengawasan luar sebagai langkah pencegahan—tengah dilahap secara buas.

“Krrk—”

Di cengkeraman sesosok goblin berukuran raksasa, tergenggam sisa-sisa tubuh Mark yang sudah tidak berbentuk.

Para tentara bayaran yang menyaksikan pemandangan itu—

“Ini… ini tidak mungkin terjadi…”

—merasakan gelombang ketakutan yang merayap naik ke dada mereka.

Mark, sesosok mayat termutilasi di hadapan mereka, adalah seorang tentara bayaran veteran yang sanggup menghadapi puluhan goblin seorang diri tanpa kesulitan berarti.

Fakta bahwa ia tewas bahkan tanpa sempat mengirimkan sinyal peringatan tentang kedatangan gerombolan goblin raksasa ini menyiratkan satu hal bagi para tentara bayaran:

Mutasi goblin di hadapan mereka ini jauh melampaui batas kewajaran.

Para ksatria, yang menggenggam senjata berdampingan dengan para tentara bayaran, juga menyadari bahwa situasi ini telah berubah menjadi krisis besar.

Meskipun jumlah goblin itu hanya ratusan, pertempuran ini akan sangat merugikan pihak ksatria.

Privacy Settings

Secara individu mungkin mereka bisa mengatasi, namun para ksatria kini memiliki para bangsawan yang harus dilindungi.

Dan goblin adalah monster licik yang sangat piawai memanfaatkan kelemahan semacam itu.

Sementara para tentara bayaran tampak terpaku oleh rasa ngeri melihat penampilan aneh para goblin serta kematian tragis Mark, para ksatria yang peka terhadap aliran mana menyadari satu hal yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Mereka menyadari bahwa para goblin di hadapan mereka telah diselimuti oleh kekuatan sihir.

Bahkan sedikit saja kandungan mana di dalam tubuh seekor monster mampu mendongkrak kemampuan fisiknya secara drastis, dan para ksatria sangat memahami fakta tersebut.

Tepat ketika para ksatria memasang raut wajah muram mendengarkan jeritan aneh para goblin dan ancaman serbuan mereka—

Bruk!

Sebuah dinding batu dan reruntuhan mendadak mencuat naik dari tengah-tengah gerombolan goblin.

Semua pasang mata seketika terpaku ke arah sana.

Penyihir yang tadi merapalkan mantra cahaya langsung mengenali bahwa dinding itu adalah *“Rock Wall”*, sebuah mantra tingkat tiga.

Saat perisai transparan berlapis dua terbentuk di balik dinding batu tersebut, ekspresi para ksatria berubah dari keputusasaan menjadi kebingungan.

Pandangan penuh kebencian dari para goblin kini sepenuhnya teralihkan ke arah dinding batu itu.

“Enhance!”

Suara tenang bergeming membelah udara.

Dan kemudian—

“Compress.”

Disusul suara retakan yang nyaring, bola transparan itu dengan cepat menyusut, mendistorsi dinding batu saat struktur tersebut runtuh ke dalam.

Bruk, bruk—

Di tengah keheningan yang tercipta, suara derap langkah kaki menarik perhatian para ksatria dan tentara bayaran ke satu arah tertentu.

Seorang pria tengah melangkah mendekat. Bahkan di tengah situasi yang mempertaruhkan nyawa ini, ia tampak sama sekali tidak terusik, berjalan dengan ekspresi acuh tak acuh.

Para bangsawan dan ksatria seketika menyadari bahwa pria itu adalah Count Palatio.

“Vacuum.”

Begitu bibirnya kembali berucap, perisai bundar itu berubah wujud menjadi bentuk bongkahan batu kasar, seukuran bola sepak yang biasa ditemukan di pinggir jalan.

Dan kemudian—

“Return to origin.”

Menyusul kalimat terakhir Alon, gelang di pergelangan tangannya memancarkan cahaya abu-abu samar.

Bum—!!!

Bongkahan batu yang telah termampatkan itu meledak ke luar bagaikan tembakan senapan *shotgun*, merobek puluhan goblin hingga berkeping-keping.

Privacy Settings

Semua itu terjadi dalam sekejap mata.

Para bangsawan, ksatria, dan tentara bayaran berdiri mematung dalam keheningan total, mulut mereka menganga lebar menyaksikan para goblin yang dialiri mana itu tercabik-cabik menjadi gumpalan daging tak berbentuk.

Di antara mereka, mata Count Crylde dan Count Edolon terbelalak lebar seolah nyaris copot dari rongganya.

Kini, saat seluruh mata tertuju padanya, Alon hanya berujar santai:

“Berhenti berdiri melamun di situ dan bersiaplah.”

Suaranya terdengar begitu tenang saat ia menatap lurus ke depan.

…Para ksatria dan tentara bayaran, seolah terkena sihir pengendali pikiran, serentak mengangkat pedang mereka.

Rasa takut yang tadinya sempat merayap dan mencengkeram hati mereka, lenyap tak bersisa seolah disapu oleh keajaiban.

— End of Chapter 21 — — Akhir Chapter 21 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!