Became the Patron of Villains

Bab 34

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 53 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 34

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Di tanah utara, tempat hawa dingin yang menusuk dan hamparan bumi kelabu membentang tanpa akhir, terbentang medan di mana pertempuran antara Dewa Luar dan Count Asteria belum lama ini berkecamuk. Kini, tempat itu telah menjelma menjadi padang makam tak terhitung jumlahnya—peristirahatan terakhir bagi mereka yang jasadnya tak sempat dievakuasi oleh regu ekspedisi.

Klang—

Sosok itu berbalut jubah suci hitam pekat, dihiasi ornamen-ornamen hitam bernuansa kelam yang berdenting samar di pinggang serta tangannya. Kendati wajahnya tersembunyi di balik tudung, ia tampak sedang mengamati sekelilingnya dengan saksama.

“…?”

“…?”

Bibirnya berkedut ke samping, seolah tak habis pikir dengan situasi yang tersaji di hadapannya. Namun tak berselang lama, seraya terus menyapukan pandangannya, seulas senyum tipis penuh geliat rasa geli terbit di wajahnya.

“Menarik.”

Suaranya terdengar riang tak wajar, sangat bertolak belakang dengan lanskap kelabu yang muram itu. Nada suaranya bergema dengan lapisan vokal bertingkat, membuat siapa pun sukar menerka apakah si penutur seorang pria atau wanita. Saat ia perlahan menyapu seluruh area tersebut, tatapannya akhirnya tertambat pada tanah di bawah sana. Tepat di sanalah sang Dewa Luar sempat lenyap, dan di titik itulah, melalui sebuah duel yang sah, Alon mendaratkan serangannya.

Sambil menatap dingin ke arah titik tersebut, ia bergumam pelan, “Mari kita lihat sejauh mana hal ini akan bergulir. Haruskah kita terus menyaksikannya?”

Dengan kalimat penuh teka-teki itu, ia berbalik tanpa ragu sedikit pun, seakan tak ada lagi urusan yang tertinggal di sana. Maka, tanah kelabu yang kini hanya dihuni oleh nisan-nisan bisu itu pun kembali terperosok ke dalam kesunyian yang mencekam.

***

Lima bulan telah berselang semenjak hadiah-hadiah tak berkesudahan mulai membanjiri wilayah Palatio, dan kini pergantian musim telah bergulir dari musim semi menuju hari-hari musim panas yang cerah dan hangat. Kendati semilir angin membawa hawa hangat, hembusannya masih lebih tepat digambarkan sebagai “menyegarkan” ketimbang “terik.”

Pada masa ini, ketika arus kiriman hadiah yang menyertai studi sihir Alon mulai berangsur surut, dua agenda penting tiba-tiba menuntut perhatiannya.

Yang pertama adalah kemunculan kembali kota Kahara yang telah lama terlupakan. Setelah terus-menerus menggali informasi melalui serikat, Alon lekas memperoleh kabar bahwa kota yang hilang tersebut telah ditemukan di tengah padang pasir. Kendati laporan serikat hanya menyebutkan bahwa para penjelajah berhasil menemukan sebuah kota tersembunyi, Alon—berbekal pengetahuannya terdahulu—dapat langsung mengenali bahwa itu adalah kota Kahara yang terlupakan. Dengan kata lain, ia hanya perlu bertolak dari wilayah koloni untuk akhirnya bisa mengamankan informasi yang selama ini ia incar.

Namun alih-alih bertolak menuju kota gurun tersebut, saat ini Alon justru tengah menempuh perjalanan ke arah sebaliknya, menuju ibu kota Asteria, Teria. Musababnya tak lain adalah agenda penting kedua: Majelis Agung, sebuah sidang akbar yang dihelat setiap tiga tahun sekali, yang kehadirannya wajib dipenuhi oleh segenap kaum bangsawan.

“Apakah kita sudah hampir sampai?”

“Seharusnya sebentar lagi kita tiba,” sahut Evan, yang duduk berhadapan di dalam kereta kuda bersama Alon, sembari mendongak menatap langit yang bermandikan cahaya matahari.

“Kuharap kita belum terlalu dekat.”

“Namun jika kita memperlambat lajunya lebih dari ini, perjalanannya akan menjadi serbasurem.”

Alon mengangguk pelan menanggapi ucapan Evan. Kereta kuda yang kini melaju kencang di atas jalanan berbatu itu memang melesat dengan kecepatan yang tak lazim untuk kendaraan sejenisnya.

‘Aku sama sekali tidak berniat menarik perhatian hanya gara-gara datang terlambat…’

Akibat keliru memperhitungkan waktu tempuh, Alon kini berada di ambang bahaya tiba terlambat di Majelis Agung. Di balik parasnya yang datar tanpa riak emosi, ia menghela napas panjang dalam hati. Rasanya ia ingin sekali mencampakkan segalanya dan memutar balik kereta kuda itu menuju wilayah koloni, namun sayangnya, opsi itu sama sekali mustahil. Mirip seperti perjamuan-perjamuan sosial yang pernah ia hadiri sebelumnya, Majelis Agung adalah agenda mutlak bagi seluruh bangsawan Asteria yang diselenggarakan sekali dalam kurun waktu tiga tahun.

‘Mengapa aturan merepotkan semacam ini harus ada, sih?’

Kendati Alon telah menggeledah tumpukan dokumen demi mencari celah untuk mangkir, ia sejatinya mafhum mengapa aturan ketat semacam ini diberlakukan.

‘Apakah negeri ini berhaluan komunis…? Ah, ini kan monarki, jadi mungkin memang ada kemiripannya…?’

Kendati demikian, memahami alasan di balik aturan tersebut tidak serta-merta mengubah pendiriannya. Ia sama sekali tidak menaruh minat untuk berkecimpung dalam faksi-faksi politik Asteria—tidak dulu, dan tentu saja tidak sekarang. Bergabung dengan sebuah faksi politik pada hakikatnya sama saja dengan menabur benih permusuhan di dalam kerajaan, sesuatu yang paling dihindari oleh Alon.

Tentu saja, memiliki musuh terkadang dapat mendatangkan keuntungan tersendiri, namun tak satu pun dari keuntungan itu merupakan hal yang didambakan Alon. Uang, contohnya, sudah melimpah ruah berkat sang bawahan yang “teramat berbakti”, Deus.

‘…Dulu sempat ada masa ketika menerima terlalu banyak hadiah terasa sangat membebani, tetapi sekarang, hidupku justru jadi jauh lebih nyaman.’

Bagaimanapun juga, Alon sama sekali tak melihat adanya faedah bergabung dengan faksi mana pun jika menimbang impian hidupnya saat ini, sehingga sedari awal ia selalu menjaga jarak sejauh mungkin dari intrik kekuasaan.

“Evan.”

“Tuan, ibu kota sudah mulai terlihat di depan sana.”

Seakan memang telah menantikan panggilan Alon, Evan lekas menyahut tanggap. Alon mengalihkan pandangannya ke luar jendela kereta dan menyaksikan kemegahan ibu kota Asteria, Teria, mulai menyapa penglihatannya.

“Oh.”

Taraf kemajuan kota Teria sungguh memukau, jauh melampaui kerajaan mana pun yang pernah dilihat Alon sejauh ini. Kendati ia baru sempat menyambangi sekitar lima wilayah kekuasaan dan satu ibu kota lain bernama Caliban, jurang perbedaan pembangunannya—di luar luas bentang wilayahnya—terasa sangat mencolok.

Tatkala ia tengah terpaku memandangi panorama ibu kota dengan tatapan menerawang…

“Itu dia tempatnya.”

Melihat gedung megah tempat berlangsungnya Majelis Agung di kejauhan, Alon tak kuasa menahan rasa cemas yang mendadak menyeruak—persis seperti kepanikan seorang mahasiswa yang sadar dirinya bakal terlambat sepuluh menit menghadiri jam kuliah. Wajahnya menegang getir memikirkan hal itu.

“Hmm…?”

Akan tetapi, begitu kakinya menginjak pelataran aula majelis, Alon memiringkan kepalanya dengan raut bingung. Terlepas dari kenyataan bahwa sidang seharusnya sudah dibuka, tampak begitu banyak bangsawan yang masih berkeliaran di luar, asyik bercengkerama santai alih-alih bergegas memasuki aula.

‘Ada apa sebenarnya…?’

Alon sempat bertanya-tanya sejenak, namun ia lekas menepis prasangka itu. Alih-alih pusing memikirkannya, ia justru merasa lega bukan main karena dirinya tak perlu lagi menanggung tatapan menghakimi akibat datang terlambat. Tanpa membuang waktu, ia bergegas turun dari kereta, ingin segera melangkah masuk ke dalam gedung.

***

Tak lama kemudian…

“Fiuh—”

Evan, yang telah memacu kereta kuda sekuat tenaga di tengah himpitan waktu yang kian sempit, mengembuskan napas lega seraya memperhatikan punggung Alon.

Alon, yang tengah melangkah menuju gedung Majelis Agung dengan tempo agak tergesa-gesa, jelas terlihat sedang diburu waktu. Kendati demikian, di mata orang lain, langkah-langkah lebarnya mungkin hanya tampak wajar bagi seseorang dengan postur tubuh sepertinya.

Namun bagi Evan, yang telah setia mendampingi Alon selama lebih dari tujuh tahun dan kini menjelang tahun kedelapan, ia dapat menangkap jelas bahwa sang majikan berada dalam kondisi yang jauh lebih gusar daripada yang diperlihatkannya di permukaan.

‘Yah, kurasa hanya hal-hal kecil seperti itulah yang mampu kupahami darinya.’

Meski telah menghabiskan bertahun-tahun di sisi Alon, nyatanya masih teramat banyak misteri yang menyelubungi sosok pemuda itu, sebuah kenyataan yang kerap kali menyisakan rasa masygul di benak Evan.

“Loh?”

Raut heran mendadak membias di wajah Evan. Para bangsawan yang beberapa saat lalu masih asyik bercengkerama satu sama lain, kini serempak mulai berderap mengikuti di belakang Alon begitu pemuda itu melangkah mantap mendahului mereka menuju aula majelis.

Tentu saja, pemandangan ini tidak sepenuhnya ganjil. Boleh jadi mereka sekadar lupa waktu karena keasyikan berbincang, dan baru tersadar sekarang bahwa mereka telah melampaui batas waktu yang ditentukan.

Akan tetapi, bukan hal itu yang memicu keheranan Evan.

‘Tunggu sebentar… apakah mereka semua sengaja mengekor di belakang sang Count?’

Para bangsawan yang berserakan di sekitar pelataran gedung Majelis Agung tadi sama sekali tidak berdiri mengelompok di satu titik; posisi mereka tersebar di mana-mana, mulai dari undakan tangga hingga ke dekat pintu gerbang. Dengan kata lain, para bangsawan yang sadar diri mereka terlambat semestinya tinggal melenggang masuk sendiri ke pintu utama.

Namun…

‘Mustahil… apakah hal seperti ini benar-benar tengah terjadi?’

Alon, yang kepalanya dipenuhi kelegaan karena terbebas dari kecemasan ala mahasiswa telat dan tak perlu menanggung malu, tampaknya sama sekali tidak menyadari gelagat tersebut. Namun kenyataannya, seluruh bangsawan itu kini berbaris rapi melangkah tepat di belakangnya.

Klak—

“…???”

Ketika Alon akhirnya menjejakkan kaki di puncak anak tangga dan melangkah memasuki ruangan majelis, pemandangan itu tampak seolah-olah ia tengah memimpin segenap bangsawan berbaris masuk ke dalam aula. Evan yang menyaksikan arak-arakan itu dari kejauhan hanya bisa ternganga dalam kebingungan mutlak.

***

Sementara itu, tatkala Alon melangkah masuk ke dalam aula majelis dengan dada diliputi rasa lega, ia akhirnya sempat menyapu pandangannya untuk pertama kali ke seluruh penjuru ruangan. Tata letak interiornya menyerupai ruang parlemen melingkar yang kerap ia saksikan di layar televisi pada kehidupannya yang lampau.

Satu-satunya perbedaan mencolok adalah pembagian kursinya yang terbagi ke dalam tiga kubu terpisah, yang agaknya sengaja dirancang untuk menyekat tiap faksi politik yang ada.

‘Sisi kiri pasti Faksi Royalis, dan sisi kanan adalah Faksi Bangsawan?’

Alon melirik sekilas ke arah para bangsawan yang telah menduduki deretan kursi di sayap kiri dan kanan, sebelum kemudian atensinya tertumbuk pada deretan kursi kosong yang amat melimpah di bagian tengah.

‘Tampaknya ini area duduk bagi para bangsawan netral… tapi apakah memang ada bangsawan netral sebanyak ini?’

Raut bingung sempat terlintas di wajah Alon, kendati hanya bertahan sepersekian detik. Menyadari bahwa tatapan puluhan pasang mata mulai terarah kepadanya, secara naluriah ia beranjak hendak menduduki kursi paling belakang yang paling jauh dari pusat perhatian. Akan tetapi, saat ia menolehkan kepala lantaran merasakan sorot tatapan menusuk dari arah belakangnya, ia terperangah.

Sebab di sana, tepat menatap lurus ke arahnya, berdirilah kerumunan para bangsawan tadi. Mereka semua menatapnya dengan raut wajah yang seakan-akan tengah bertanya, *‘Apa-apaan yang sebenarnya kau lakukan sekarang?’*

‘Tunggu, bukankah kalian semua tadi masih asyik mengobrol di luar…???’

Dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan canggung, Alon terpaksa kembali melangkah maju, berniat mencari tempat duduk di barisan tengah.

“…Ah.”

Melihat tatapan para bangsawan yang masih saja memancarkan sorot *‘Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?’*, Alon akhirnya tersentak paham mengapa mereka tadi berlama-lama menunggu di luar gedung kendati waktu telah bergulir lewat.

‘Mungkinkah… mereka semua sengaja menunda masuk karena tidak mau duduk di kursi paling depan?’

Itu adalah praduga yang nyaris terdengar konyol, namun sangat masuk akal bagi siapa pun yang pernah mencicipi bangku perkuliahan. Lantaran belum pernah menghadiri sidang agung semacam ini sebelumnya—baik di dalam gim maupun di kehidupan nyata—Alon pada akhirnya tak punya pilihan lain selain mendudukkan dirinya tepat di pucuk formasi kursi segitiga tersebut—titik utama yang secara gamblang memang diperuntukkan bagi pemimpin sebuah faksi.

Begitu Alon mendaratkan tubuhnya di kursi itu, suara gemerisik para bangsawan yang serempak ikut duduk seketika memenuhi seisi aula, membenarkan dugaannya.

‘…Aku paham betul mengapa mereka enggan duduk di kursi ini.’

Alon melirik halus ke sisi kanan dan kirinya, mengamati dua figur pemimpin faksi lain yang menduduki pucuk segitiga masing-masing, persis sejajar dengannya. Di satu sisi duduk Duke Limgrave, sang dedengkot Faksi Royalis, dan di sisi seberangnya bertakhta Marquis Filboid, pucuk pimpinan Faksi Bangsawan. Figur mereka dapat digambarkan sebagai seorang pria paruh baya yang menua dengan anggun dan seorang pria paruh baya yang ditempa kerasnya asam garam kehidupan, namun wibawa yang mereka pancarkan terasa amat mengintimidasi.

Tentu saja, itu bukanlah tekanan energi sihir. Melainkan murni kharisma serta ketegasan dari para tokoh besar yang telah memimpin kubu mereka sekian lama seraya melintasi pelbagai badai intrik.

‘Mereka menatapku tajam sekali.’

Tepat ketika Alon mulai memahami betapa mengerikannya duduk di barisan terdepan, sosok pria di tengah mimbar utama yang perawakannya lebih mirip seorang klerus ketimbang bangsawan, melirik ke arah Alon beserta para pemimpin faksi lainnya, lalu mulai berujar lantang.

“Dengan ini, mari kita buka Sidang Majelis Agung.”

‘Kuharap acara ini cepat usai…’ batin Alon seraya menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Saat itulah, ia mendapati keberadaan Duchess Altia yang duduk persis di belakangnya. Sosok sang Adipati Wanita kini memancarkan aura misteri dan keanggunan yang sarat teka-teki, amat berbeda dari perjumpaan terakhir mereka.

“Dan sebelum kita memulai persidangan hari ini, kami hendak mengumumkan secara resmi bahwa faksi yang baru terbentuk, ‘Kalpha’, kini telah sah memiliki hak suara dalam Majelis Agung Asteria.”

Itu adalah salah satu desas-desus yang sempat disingkirkan Alon ke sudut benaknya, lantaran ia yakin kabar burung itu tak akan banyak berpengaruh pada hidupnya dalam jangka panjang. Namun kini, ia mendadak teringat—hari ini memang merupakan momentum peresmian faksi bentukan Lady Zenonia dan Duchess Altia.

“Dan sekarang, kepada Count Palatio, selaku perwakilan tertinggi dari faksi Kalpha, apakah Anda memiliki sepatah dua kata untuk disampaikan?”

“…Apa?”

Pada detik itulah, Alon baru tersadar sepenuhnya bahwa tanpa ia ketahui sama sekali, dirinya telah didapuk menjadi pemimpin dari faksi misterius bentukan Duchess Altia dan Lady Zenonia.

— End of Chapter 34 — — Akhir Chapter 34 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!